Kamis, 30 Juli 2015



Puncak sejati merupakan puncak dari gunung raung yang memiliki ketinggian 3.330 MDPL. Untuk menuju gunung raung ada dua jalur yang harus dilalui. Jalur utara, yakni jalur yang lewat Bondowoso dan jalur selatan yang lewat Kalibaru. Untuk yang lewat jalur utara, hanya sampai di puncak bayangannya saja, tidak sampai pada puncak sejati raungnya. Tapi kalau lewat jalur selatan akan bisa menuju puncak sejati raung dengan melewati 3 puncak, yakni puncak bendera, puncak 17 Agustus, dan puncak tusuk gigi. Kami dari perwakilan dari MAPALSA yaitu Khumairoh Halimatus sya’dia (Slitit) dan Aswar Tahir (Keplek) telah memilih gunung raung via Kalibaru sebagai tempat Dikjut (Diklat Lanjutan) XXII Mapalsa. Kami berangkat ke sana didampingi oleh Imam Bushori (Bolding) dan Zulfadli (Sincan).
Kita berencana berangkat ke sana mulai dari tanggal 9 sampai 13 Juni 2015. Pada pukul 08.00 sampai pada pukul 14.00 kita mulai persiapan pemberangkatan, mulai dari packing sampai melengkapi perlengkapan yang belum lengkap. Akan tetapi sampai pukul 16.00 baru selesai packingnya. Setelah itu kita makan bersama di sekretariat mapalsa bersama para senior. Selesai makan, langsung kita mulai upacara pemberangkatan pada pukul 17.00. Upacara pemberangkatan tersebut selain berisi sambutan-sambutan juga ada penyematan anggota AM (Anggota Muda) dari ALD (Anggota Lulus Diklat) oleh senior mapalsa terhadap angkatan 2013. Cak Cecep menyematkan scraft merah kepada pumeto, cak Toni terhadap Purel, cak Jemblung terhadap saya (Slitit), dan cak Gembel terhadap Keplek.
Upacara  pemberangkatan selesai pada pukul 17.40.  Kemudian kita jalan kaki ke depan kampus untuk menunggu angkot warna kuning untuk menuju ke Bungurasih, akhirnya angkotpun tiba pada pukul 18.20. Setelah tiba di Bungurasih, kita langsung mencari bus jurusan Jember, karena kita akan singgah dahulu di Mahapala D III Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Kami berangkat dari kampus tiga orang, yaitu cak Bolding, Keplek dan saya. Akan tetapi kita membawa carier 4, dan itupun sangat berat sekali. Sebenarnya kami sangat mengharap ada orang dari Mahapala yang mau mengantarkan kami ke puncak raung, karena dari kita tidak ada yang pernah yang muncak ke sana.
 Sepanjang perjalanan terkadang saya (slitit) mengantuk, sampai-sampai tidak sadar terkadang tidur di bahunya orang yang duduk di sebelah saya. Ketika sampai di kota Lumajang, tiba-tiba saya tersadar dari ngantuk saya, karena ada keributan di dalam bus. Ternyata keributan tersebut terjadi antara pencopet dengan penumpang yang saling todong menodong, saling menghantam. Semua penumpang dalam bus merasa agak panik melihat kejadian tersebut, sehingga saya langsung memegang tangannya cak Bolding. Semula tidak ada yang melerai dari perkelahian tersebut, jangankan penumpang yang melerai, si kondekturpun agak takut saat melerai mereka. Tapi alhamdulilah akhirnya sang pencopetpun turun duluan di tengah perjalanan.
Pukul 00.10 kami tiba di salah satu pom bensin di Jember. Sambil menunggu jemputan, dan menghilangkan rasa panik yang terjadi dalam bus tadi, kita memesan bakso dan teh hangat dulu. Kemudian pukul 00.30 anak Mahapala menyusul kita untuk di bawa ke sekret mereka untuk istirahat. Sebelum istirahat, kita makan nasi bersama yang dihidangkan oleh anak Mahapala. Kemudian tak lama lagi cak Shincan menyusul kita untuk ikut menemani ke gunung raung.

 Untuk sementara itu dahulu ceritanya, besok aq share lagi,.

0 komentar:

Posting Komentar

AyAt2,,,..


 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Affiliate Network Reviews