Puncak sejati merupakan puncak dari gunung raung yang memiliki
ketinggian 3.330 MDPL. Untuk menuju gunung raung ada dua jalur yang harus
dilalui. Jalur utara, yakni jalur yang lewat Bondowoso dan jalur selatan yang
lewat Kalibaru. Untuk yang lewat jalur utara, hanya sampai di puncak
bayangannya saja, tidak sampai pada puncak sejati raungnya. Tapi kalau lewat
jalur selatan akan bisa menuju puncak sejati raung dengan melewati 3 puncak,
yakni puncak bendera, puncak 17 Agustus, dan puncak tusuk gigi. Kami dari
perwakilan dari MAPALSA yaitu Khumairoh Halimatus sya’dia (Slitit) dan Aswar
Tahir (Keplek) telah memilih gunung raung via Kalibaru sebagai tempat Dikjut
(Diklat Lanjutan) XXII Mapalsa. Kami berangkat ke sana didampingi oleh Imam
Bushori (Bolding) dan Zulfadli (Sincan).
Kita berencana berangkat ke sana mulai dari tanggal 9 sampai 13
Juni 2015. Pada pukul 08.00 sampai pada pukul 14.00 kita mulai persiapan
pemberangkatan, mulai dari packing sampai melengkapi perlengkapan yang belum
lengkap. Akan tetapi sampai pukul 16.00 baru selesai packingnya. Setelah itu
kita makan bersama di sekretariat mapalsa bersama para senior. Selesai makan,
langsung kita mulai upacara pemberangkatan pada pukul 17.00. Upacara
pemberangkatan tersebut selain berisi sambutan-sambutan juga ada penyematan
anggota AM (Anggota Muda) dari ALD (Anggota Lulus Diklat) oleh senior mapalsa
terhadap angkatan 2013. Cak Cecep menyematkan scraft merah kepada pumeto, cak Toni
terhadap Purel, cak Jemblung terhadap saya (Slitit), dan cak Gembel terhadap
Keplek.
Upacara pemberangkatan
selesai pada pukul 17.40. Kemudian kita
jalan kaki ke depan kampus untuk menunggu angkot warna kuning untuk menuju ke
Bungurasih, akhirnya angkotpun tiba pada pukul 18.20. Setelah tiba di
Bungurasih, kita langsung mencari bus jurusan Jember, karena kita akan singgah
dahulu di Mahapala D III Fakultas Ekonomi Universitas Jember. Kami berangkat
dari kampus tiga orang, yaitu cak Bolding, Keplek dan saya. Akan tetapi kita
membawa carier 4, dan itupun sangat berat sekali. Sebenarnya kami sangat
mengharap ada orang dari Mahapala yang mau mengantarkan kami ke puncak raung,
karena dari kita tidak ada yang pernah yang muncak ke sana.
Sepanjang perjalanan terkadang
saya (slitit) mengantuk, sampai-sampai tidak sadar terkadang tidur di bahunya
orang yang duduk di sebelah saya. Ketika sampai di kota Lumajang, tiba-tiba
saya tersadar dari ngantuk saya, karena ada keributan di dalam bus. Ternyata
keributan tersebut terjadi antara pencopet dengan penumpang yang saling todong
menodong, saling menghantam. Semua penumpang dalam bus merasa agak panik
melihat kejadian tersebut, sehingga saya langsung memegang tangannya cak
Bolding. Semula tidak ada yang melerai dari perkelahian tersebut, jangankan
penumpang yang melerai, si kondekturpun agak takut saat melerai mereka. Tapi
alhamdulilah akhirnya sang pencopetpun turun duluan di tengah perjalanan.
Pukul 00.10 kami tiba di salah satu pom bensin di Jember. Sambil
menunggu jemputan, dan menghilangkan rasa panik yang terjadi dalam bus tadi,
kita memesan bakso dan teh hangat dulu. Kemudian pukul 00.30 anak Mahapala
menyusul kita untuk di bawa ke sekret mereka untuk istirahat. Sebelum
istirahat, kita makan nasi bersama yang dihidangkan oleh anak Mahapala.
Kemudian tak lama lagi cak Shincan menyusul kita untuk ikut menemani ke gunung
raung.
Untuk sementara itu dahulu ceritanya, besok aq share lagi,.